MENGENAL AGAMA-AGAMA DI INDONESIA











MENGENAL AGAMA - AGAMA DAN ALIRAN KEPERCAYAAN DI INDONESIA

Pendahuluan
          Agama adalah sistem kepercayaan kepada Allah yang mempunyai dasar Kitab Suci yang jelas dan mempunyai seorang tokoh yang dijadikan panutan dan teladan hidup. Dengan demikian, bergama bukan sekadar mendapat status atau rajin beribadat. Beragama yang benar harus menjadikan agama sebagai pedoman hidup sehari-hari.
Dalam Gereja Katolik, Yesus adalah pedoman dan teladan hidup para pengikut-Nya. Orang katolik tidak melanjutkan agama Yesus, tetapi meneladan ketaatan-Nya dalam beragama. Sebab Yesus seorang beragama Yahudi yang taat. Teladan itulah yang perlu kita ikuti dalam hidup beragama.
Kenyataan membuktikan bahwa agama mempunyai arti penting bagi para penganutnya. Karena itulah manusia beragama. Beragama menunjukkan kerinduan manusia untuk menggantungkan hidupnya pada Allah yang maha kuasa. Agama menjadi sarana manusia mengenal Allah dan membangun hubungan dengan-Nya.
Ada enam agama yang diakui di Indonesia,yaitu Islam,Protestan, Katolik,Hindu, Budha dan Kong Hu Cu, serta agama asli dan aliran kepercayaan.

I. AGAMA ISLAM


Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, yaitu sekitar 85% dari jumlah penduduknya. Muslim adalah sebutan untuk penganut agama Islam. Mayoritas muslim dapat dijumpai di wilayah barat Indonesia seperti di Jawa dan Sumatra, sedangkan di wilayah Timur Indonesia prosentase penganutnya tidak sebesar di kawasan Barat.

1. Hal - hal pokok dalam ajaran Islam

Berikut ini beberapa hal penting yang berkaitan dengan ajaran Agama   Islam.

a. Asal mula agama Islam

(1) Islam (bahasa Arab) berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, masuk ke dalam suasana damai, sejahtera, dan  hubungan serasi, baik antar sesama manusia maupun antara manusia dan Allah. Mereka mengimani bahwa agama Islam seluruhnya secara lengkap, sebagai suatu sistem, berasal dari Allah sendiri yang mewahyukannya kepada Nabi Muhammad dengan perantaraan Malaikat Jibril.

(2) Orang-orang muslimin merupakan sebuah kelompok yang                             terjalin erat berkat iman pada agama yang sama. Persekutuan muslimin ini disebut ummah atau ummat. Ikatan berdasarkan agama yang sama ini disebut ukhuwah islamiyah yang berarti  persaudaraan Islam.

(3) Ummat ini seharusnya dipimpin oleh seorang pemimpin yang disebut khalifah. Sejak hancurnya ke-khalifah-an tahun 1256 karena dihancurleburkan oleh padukan Mongol Hulagu, umat Islam mengalami kekosongan kepemimpinan sampai sekarang.

b. Tauhid, nama - nama dan sifat - sifat Allah.

(1) Islam merupakan agama monotheis dengan tekanan yang amat kuat pada Allah yang Mahabesar ( Allahu Akbar) menjadi seruan yang kerap digunakan di mana - mana. Monoteisme Islam yang disebut (tauhid) sedemikian      ditekankan sehingga tak ada toleransi sedikit pun terhadap apa   pun juga yang dapat mengaburkan ke - Esa - an Allah. Syirk atau “men - syarikat - kan Allah” berarti menenmpatkan     sesuatu, betapa pun kecilnya, di samping atau sejajar dengan  Allah. Syirk merupakan dosa yang terbesar.

(2) Allah yang diimani mempunyai 20 sifat dan 100 nama yang indah. Orang muslim yang saleh mencoba selalu mengucapkan keseratus nama Allah yang indah ini dengan pertolongan sebuah tasbih yang berupa sebuah untaian 100      butir-butiran.

c. Iman Islam

(1) Kesaksian pokok iman Isalam dirumuskan dalam kalimat                       syahadat yang terdiri atas dua kalimat (karena itu dinamakan  juga “dua kalimat syahadat”). Kesaksian yang pertama adalah kesaksian   atas Allah Yanag Maha Esa, sedangkan kesaksian yang kedua atas Muhammad sebagai rasul Allah.      Kalimat syahadat ini diucapkan pada waktu orang menjadi muslim ( sebagai ucapan    upacara inisiasi dari non -  muslim ke Islam dan waktu akad nikah).

(2) Syahadat akan Allah Yang Maha Esa ini merupakan salah                           satu dari enam rukun iman dalam Islam. Kelima rukun iman lainnya adalah percaya kepada malaikat, kitab suci, rasul, hari kiamat, dan takdir ialahi.

(3) Islam mengajarkan bahwa dalam kurun waktu tertentu Allah                  memberikan wahyu-Nya kepada manusia tertentu dengan                             perantaraan Malaikat Jibril. Orang yang mendapat wahyu ini disebut nabi dan jumlahnya banyak sekali, antara lain Adam, Luth, Ibrahim, Daud, dan Isa. Bila nabi itu diutus mewartakan wahyu yang diterimanya itu kepada orang - orang lain, ia disebut rasul, yang berarti utusan (Allah).

d. Kitab suci agama Islam

(1) Didengarkan juga oleh wahyu yang diberikan kepada para nabi               berupa sebuah kitab suci yang merupakan kutipan langsung dari induk kitab suci (ummal kitab) yang tersimpan di surga (al lauh al mahfudz).

(2) Allah memberikan Alquran kepada segenap umat manusia                      melalui Muhammad dalam bahasa Arab dan merupakan kitab suci terakhir dan tersempurna dari segala kitab yang pernah ada.

(3) Kedudukan Alquran dalam kehidupan umat Islam sangatlah                             sentral, melebihi kedudukan Muhammad sendiri. Di dalam Alquran termuat wahyu ilahi sendiri secara sempurna, tanpa cacat sedikit pun. Termuat di dalamnya segala sesuatu yang dibutuhkan bagi kehidupan manusia dalam segala aspek  kehidupannya, baik yang menyangkut hubungannya dengan Tuhan ( hal ini disebut ibadah) maupun yang mengatur peri kehidupan antar manusia yang disebut mu’amalat. Oleh karena itu, Alquran sangat dihormati. Membacanya pun  merupakan suatu ibadat yang sangat   mendatangkan pahala, tidak hanya bagi yang membacanya melainkan juga bagi yang mendengarkannya. Supaya sebanyak mungkin orang dapat memperoleh pahala, pembacaan Alquran        tidak hanya di dalam hati, tetapi dengan suara yang dapat didengar oleh            orang lain.

e. Arkan al-Islam

        Islam berati penyerahan diri secara total kepada Allah. Sebagai   orang muslim sikap yang tepat bagi seseorang di hadapan Allah  adalah takwa dan takut kepada Allah, taat pada segala perintah-Nya, sebagaimana dituliskan dalam Alquran. Manusia adalah hamba dan   abdi Allah. Kewajiban - kewajiban pokok yang harus dijalankan     oleh setiap orang muslim terangkum dalam lima rukun Islam atau pilar penyangga keislaman ( arkan al islam), yakni syahadat, sholat lima waktu, saum (puasa dalam bulan Ramadhan), zakat, dan haji (naik haji ke Mekah).

f. Hukum Islam (Al Ahkam al Khamsa)

(1)  Tujuan hidup manusia adalah mencari rida ilahi, mencari                       perkenanan Allah, hidup sedemikian rupa sehingga Allah tidak marah, melainkan berkenan. Perbuatan - perbuatan yang berkenan pada Allah (disebut halal) mendatangkan pahala bagi pelakunya. Sebalinknya, perbuatan yang menimbulkan  kemarahan Allah (disebut haram) menimpakan hukuman pada      pelakunya.

(2)  Ada 5 (lima) hukum Islam yakni :
(a) Wajib atau Fardh                   :  harus dilakukan
(b) Sunah atau mustahab            :  sebaiknya dilakukan
(c) Mubah atau jaiz                     :  diperbolehkan
(d) Makruh                                  :  sebaiknya tidak dilakukan
(e) Haram                                    :  dilarang

(3)  Halal haramnya sesuatu dapat diketahui dari Alquran sendiri. Bila tidak ada di dalam Alquran, diaculah sumber yang kedua, yakni sunah Nabi, yaitu perkataan, tingkah laku, dan perbuatan Nabi Muhammad sendiri. Sunah Nabi dikumpulkan dalam kitab - kitab yang disebut Kitab Hadis. Hadis berarti       tradisi, tetapi di sini hanyalah tradisi atau adat kebiasaan  Muhammad itu sendiri.

g). Mistik dalam Islam (tasawuf)

        Dalam sejarah perkembangan umat Islam, ilmu fikih (hukum     Islam ) menempati peranan yang utama. Karena terlalu menekankan    hukum, muncullah penghayatan keagamaan yang sangat legalistis.   Hubungan dengan Allah menjadi kering, sehingga muncullah gerakan mistik dalam umat Islam dan cara penghayatan keagamaan      ini terkenal denagan nama tasawuf, sedangkan orang yang   menjalankan cara hidup ini disebut sufi. Hampir semua wali dari Wali Songo yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa adalah orang -  orang sufi.

h) Sikap agama Islam terhadap agama lain

      Sikap Islam terhadap agama lain terungkap antara lain dalam surat berikut:

(1) Surah Al Baqarah 62

    Dalam hubungannya dengan agama lain, Islam mempunyai sikap  dasar toleransi yang tinggi. Tolerasi Islam digariskan langsung  oleh Allah dalam Alquran. Misalnya dalam surah Al Baqarah 62  disebutkan : “Sesungguhnya orang - orang yang beriman dan orang Yahudi dan Nasrani dan kaum Shobiin itu adalah orang - orang yang percaya kepada Allah, hari kiamat, dan beramal soleh maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya, dan tidak ada ketakutan bagi mereka dan juga tidaklah mereka merasa patah hati.”

(2) Surah Al Maidah 82 - 83

(a) Dalam surah Al Maidah 82 disebutkan: “ Dan sesungguhnya kamu akan mendapatkan orang - orang yang paling dekat rasa kasih sayangnya kepada orang - orang mukmin ialah mereka yang menyatakan dirinya: kami adalah orang - orang Nasrani.”

(b) Dalam Islam juga ada keyakinan bahwa tidak ada paksaan                    dalam hal memeluk agama. Bahkan, Nabi Muhammad SAW sendiri telah banyak memberi contoh bagaimana ia menghormati dan menyayangi orang yang beragama lain.

(c) Di dalam Alquran disebutkan juga berbagai tokoh dari Perjanjian Baru. Isa, yang dilahirkan dari Ibu Maryam, dikisahkan dengan panjang lebar sebagai seorang nabi yang istimewa lahir melalui mukjizat, tanpa ayah, mengajar, dan membuat banyak mukjizat. Ia pun terberkati, kudus, murni, rasul Allah, jalan orang saleh, pengantara, bahkan disebut sebagai kalimat Allah dan Roh Allah. Akan tetapi, Dia bukanlah Allah. Maria diceritakan berkaitan dengan Isa Almasih Ibu Maryam ini. Bagian Alquran yang memuat hal ini dinamakan surah al Maryam.

i) Hari raya agama Islam
          Ada beberapa hari raya agama Islam yang dijadikan hari libur nasional, yaitu     Idul Fitri, Idul Adha, Maulud Nabi, dan Tahun  Baru Islam (1 Muharam).


II. AGAMA KRISTEN

        Kristen berkembang di Indonesia selama masa kolonial Belanda (VOC), pada sekitar abad ke - 16. Kebijakan VOC yang mereformasi Katolik dengan sukses berhasil meningkatkan jumlah penganut paham Kristen Protestan (yang kemudian disebut Kristen) di Indonesia. Agama ini berkembang sangat pesat pada abad ke - 20, yang ditandai oleh kedatangan para misionaris dari Eropa ke beberapa wilayah di Indonesia, seperi di wilayah barat Papua dan lebih sedikit di kepulauan Sunda.

1. Sejarah singkat pemisahan Gereja

a. Gereja Lutheran

     Keadaan Gereja pada abad XVI mengalami kemerosotan moral yang sangat memprihatinkan. Paus saat itu menjadi sangat berkuasa. Ia memegang supremasi, baik dalam urusan Gereja maupun politik kenegaraan. Paus tampil sebagai penguasa tunggal yang cenderung otoriter.
    Komersialisasi jabatan Gereja dipertontonkan secara terbuka. Banyak pejabat Gereja menjadi pangeran duniawi dan melalaikan tugas rohani mereka. Banyak imam - imam paroki tidak terdidik, hedonistis, bodoh, tidak mampu berkhotbah, dan juga tidak mampu mengajar umat. Keadaan semacam ini terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama. Teologi skolastik menjadi mandul dan masalah dogmatis dianggap sebagai perdebatan tentang hal sepele antara aliran teologis. Banyak persoalan teologi mengambang dan tidak pasti.
    Banyak kebiasaan dalam umat belum seragam. Iman bercampur takhayul, kesalehan berbaur dengan kepentingan duniawi. Kegiatan keagamaan dianggap sebagai sebuah rutinitas sosial sehari-hari, serta mencampur adukan hal - hal profan dengan hal - hal yang suci atau sakral.

        Dalam situasi seperti itu, banyak orang merasa terpanggil untuk memperbarui hidup Gereja, namun kurang mendapat tanggapan. Kemudian tampillah Martin Luther. Luther mula - mula menyerang masalah penjualan indulgensi yaitu orang dapat menghapus dosanya dengan cara memberikan sejumlah uang di gereja.

        Martin Luther yang seorang pastor itu kemudian membela beberapa pandangan baru khususnya ajaran tentang “pembenaran hanya karena iman”, (Sola Fide). Luther menyerang wewenang Paus dan menolak beberapa ajaran teologi sebelumnya dengan bertumpu pada Alkitab sesuai tefsirannya.

        Pada dasarnya Luther tidak menginginkan perpecahan dalam Gereja. Ia ingin memelopori pembaruan dalam Gereja, tetapi kemudian ia terseret oleh arus yang disebabkan oleh rasa tidak puas yang umum dalam umat yang mendambakan pembaruan yang bentuknya kurang jelas. Ajaran - ajaran para teolog yang mendukung peprbuatan - perbuatan saleh kini diragukan Luther. Indulgensi, stipendium untuk misa arwah, sumbangan untuk membangun gereja bersama dengan patung - patung yang menghiasinya, pajak untuk Roma, ziarah dan puasa, relikui dan kaul - kaul; semua itu tidak ditemukan dalam kitab suci, sehingga ditolak oleh Luther. Luther menegaskan semuanya itu tidak bermanfaat untuk memperoleh keselamatan, yang diperlukan hanya satu, yaitu beriman (sola fide). Orang yang percaya dibenarkan Allah tanpa mengindahkan perbuatan baik manusia (sola gratia), lalu dengan sendirinya orang yang dibenarkan itu akan berbuat baik dengan bebas dan tenang, bukan karena rasa cemas akan keselamatannya. Jadi, rasa lega membuat orang tertarik kepada kotbah Luther yang disebarluaskan di seluruh Jerman. Sola fide - fides ex audito - “Hanya iman, dan dalam iman karena mendengar” itu sudah cukup untuk menjamin keselamatan.

        Jadi menurut Luther tujuh sakramen tidak penting lagi, selibat tidak berguna, hidup membiara tidak berarti. Semuanya itu buatan ‘paus’ semata dan hanya untuk mengejar kuasa dan untung. Akibatnya imam, biarawan, dan suster berbondong-bondong meninggalkan biara. Luther didukung oleh banyak kelompok dengan alasan berbeda-beda, misalnya para bangsawan yang ingin memiliki biara, warga kota yang mendambakan kebebasan berpikir, para petani yang ingin lepas dari kerja rodi dan pajak, para nasionalis yang membenci privilege Roma, para humanis yang ingin membuang kungkungan teologi skolastik, para pemerintahan kota - kota  kerajaan yang mencium kesempatan memperluas wewenang mereka di kota. Luther tampil sebagai pahlawan pembebasan. Ia disambut dengan antusias. Akhirnya pembaruan sungguh-sungguh dimulai. Mula - mula Roma kurang menyadari apa yang terjadi dan kemudian bereaksi keliru sehingga pada akhirnya tidak mampu mengarahkannya lagi.

        Banyak hal baru dimulai, namun tidak jarang merupakan perusakan yang lama saja dan bukan merupakan reformasi Gereja yang lama.Akan tetapi, orang sudah terlalu lama menunggu adanya perubahan.Mereka tidak sabar lagi. Akhirnya ekskomunikasi Luther oleh Paus Leo X (1520) dan pengucilan oleh kaisar (1523) tidak dapat membendung gerakan ini lagi. Roma tidak memahami reaksi dahsyat di Jerman ini dan tidak cepat bertindak seperti abad - abad sebelumnya.

        Luther lalu mulai menyerang umat yang setia kepada paus. Tuntutannya semakin radikal. Persatuan Gereja tidak dicari lagi,bahkan diboikot. Para bangsawan pendukungnya tidak tertarik pada persatuan kembali antara lain karena milik gerejani yang mereka rampas tidak mau mereka kembalikan. Unsur keagamaan, politis, dan pribadi di kedua belah pihak menyulitkan persatuan kembali. Reformasi selesai. Umat terpecah - belah ke dalam kelompok Katolik, Lutheran, Kalvinis, Anglikan, dan sebagainya.

b. Gereja Kalvinis

     Tokoh reformasi yang lain adalah Yohanes Calvin (1509 -1564).Tokoh ini tidak jauh berbeda dengan Luther. Ia ingin memperbarui Gereja dalam terang Injil. Calvin, dalam bukunya yang berjudul “ Institutio Christianne Religion”, menggambarkan Gereja dalam dua dimensi, yakni Gereja sebagai persekutuan orang-orang terpilih sejak awal dunia yang hanya dikenal oleh Allah dan Gereja sebagai kumpulan mereka yang dalam keterbatasannya di dunia mengaku diri sebagai penganut Kristus dengan ciri-ciri pewartaan Injil dan pelayanan sakramen-sakramen. Pengaturan Gereja ditentukan oleh struktur empat jabatan, yakni pastor, pengajar, diakon, dan penatua.

c. Gereja Anglikan

    Anglikanisme bermula pada pemerintahan Henry VII (1509 - 1547). Di Inggris Raja Henry VII menobatkan dirinya sebagai kepala Gereja karena Paus di Roma menolak perceraiannya. Anglikanisme menyerap pengaruh reformasi, namun mempertehankan beberapa corak Gereja ( Uskup - Imam - Diakon), sehingga Gereja berkembang dengan warna yang khas.
    Reaksi dari Gereja Katolik Roma atas gerakan reformasi ini adalah “Kontra- Reformasi” atau “ Gerakan Pemabaruan Katolik”. Gerekan pembaruan ini dimulai dengan menyelenggarakan konsili Trente. Melalui Konsili Trente (1545 - 1563), Gereja Katolik berusaha untuk “menyingkirkan kesesatan - kesesatan dalam Gereja dan menjaga kemurnian Injil”.

    Konsili juga menegaskan posisi Katolik dalam hal - hal yang disangkal oleh pihak reformasi (soal kitab suci dan tradisi, penafsiran kitab suci, pembenaran, jumlah sakramen - sakramen, kurban misa, imamat dan tahbisan, pembedaan imam dan awam serta lain-lainnya).

    Konsili Trente dan sesudahnya menekankan bahwa Gereja sebagai penjaga iman yang benar dan utuh ditandai dengan sakramen - sakramen, khususnya Ekaristi yang dimengerti serta dirayakan sebagai kurban sejati. Gereja bercorak hierarkis yang dilengkapi dengan jabatan - jabatan gerejani dan imamat yang berwenang khusus dalam hal merayakan Ekaristi, dan melayani pengakuan dosa; Gereja adalah kelihatan dan ini menjadi jelas dalam lembaga kepausan sebagai puncaknya; Gereja mewujudkan diri sebagai persekutuan para kudus lewat penghormatan pada mereka (para kudus); Gereja menghormati Tradisi.

2. Ciri - ciri Protestantisme

  Protestantisme adalah paham yang dianut oleh pengikut gereja Kristen.
  Ciri - ciri paham protestantisme antara lain sebagai berikut.

a) Gereja diadakan oleh rahmat Tuhan, oleh pilihan, sabda, sakramen,dan anugerah iman. Gereja yang benar ini tidak kelihatan dan tidak identik dengan Gereja - gereja yang kita ketahui anggota dan susunannya (yang disebut Gereja yang kelihatan). Gereja  yang kudus adalah persekutuan orang yang benar - benar beriman di segala tempat dan segala zaman. Gereja memberitakan sabda Allah ‘secara murni’ dan melayani Sakramen Pembaptisan dan Perjamuan Tuhan ‘dengan tepat’, yakni ‘sesuai dengan Alkitab’

Gereja-gereja yang kelihatan dan jemaat - jemaat  setempat kurang lebih      menampakkan Gereja yang kudus dan Katolik, tetapi tidak sama dengan-Nya, sebab di antara anggota - anggota Gereja yang kelihatan itu terdapat yang tidak dibenarkan karena kurang beriman. Oleh karena itu, adanya banyak Gereja yang sering kali       berhubungan satu sama lain, diterima saja, karena di antara mereka itu tidak satu pun dapat menganggap diri sebagai Gereja yang kudus.

b) Kitab suci adalah satu - satunya sumber ajaran dan susunan Gereja. Maka, sola scriptura ( diselamatkan karena kitab suci) adalah prinsip formal protestantisme. Alkitab menjelaskan sendiri artinya kepada setiap orang yang membacanya sehingga Gereja tidak berwenang membari tafsiran autentik.

c) Pembenaran orang dari semula sampai pada akhirnya semata - mata karena rahmat ilahi (sola gratia). Tuha menyatakan orang beriman benar bukan karena ia benar, melainkan karena kebenaran yang lain, yaitu kebenaran Kristus yang dikenakan padanya. Perbuatan baik manusia adalah buah rahmat ilahi semata- mata, tetapi tidak berarti untuk memperoleh pembenaran. Maka, keselamatan diharapkan hanya dari sabda ilahi saja.

d) Sabda Ilahi adalah satu - satunya sarana rahmat yag dapat                              berbentuk Alkitab, khotbah, sakramen, dan pembicaraan rohani.                  Sakramen tidak lain daripada sabda ilahi dalam bentuk kelihatan, artinya yang dialami dan bukan hanya didengar. Akibatnya ibadat/liturgi tidak begitu mendapat perhatian. Selain pembaptisan, dirayakan juga Perjamuan Tuhan yang tidak dianggap kurban dan tidak mengenal perubahan (transsubtantiatio) roti dan anggur ke dalam Tubuh dan Darah Kristus. Sebagian besar jemaan Kristen              mengimani bahwa Kristus hadir dalam Perjamuan Tuhan berkat iman orang bertemu dengan Kristus sewaktu menerima komuni.

e)  Imamat umum semua orang beriman saja yang diakui, sehingga                  pendeta dan awam hanya berbeda menurut fungsi saja tanpa                            perbedaan rohani secara eksistensial.
f) Ciri - ciri tersebut membedakan protestantisme dari katolisisme  dan ortodosisme, sedangkan anglikanisme berada di tengah-tengahnya. Paham protestantisme masih memiliki perbedaan pandangan yang luas sekali. Karena kurangnya instansi yang dapat mengambil keputusan yang mengikat, timbul banyak Gereja  Kristen Protestan.

3. Persamaan dan perbedaan antara katolisisme dan protestantisme:

     Gereja Katolik dan Gereja Protestan memiliki banyak persamaan, terutama menyangkut hal - hal fundamental, karena berasal dari Yesus Kristus yang diakui oleh keduanya sebagai dasar Gereja. Keduanya mengakui Allah yang sama, para nabi, kitab suci, dan syahadat yang sama. Hanya ada sejumlah perbedaan penafsiran dan penekanan.
    Perbedaan paham katolisisme dan protestantisme antara lain adalah sebagai berikut:
No
Katolisisme
Protestantisme
1
Tekanan ada pada sakramen dan pada segi Sakremen (tanda kelihatan) dari karya keselamatan Allah.
Tekanan pada sabda/pewartaan dan pada segi misteri karya Allah.
2
Kultis, yang artinya mementingkan kurban (Ekaristi)
Profetis, yang artinya terpusat pada sabda (pewartaan).
3
Hubungan dengan Gereja menentukan hubungan dengan Kristus.
Hubungan dengan Kristus menentukan hubungan dengan Gereja.
4
Gereja secara hakiki bersifat hierarkis.
Segala pelayanan gerejawi adalah ciptaan manusia.
5
Kitab suci dibaca dan dipahami di bawah pimpinan hierarki.
Setiap orang membaca dan mengartikan kitab suci.
6
Jumlah Kitab suci 73, termasuk Kitab Deuterokanonika, yaitu 1,2 Makabe, Sirakh, Kebijaksanaan, Tobit, Yudith dan Barukh.
Jumlah Kitab suci 66, Kitab Deuterokanonika tidak teramasuk.
7
Ada 7 Sakramen
Ada 2 Sakramen, yaitu Sakramen Baptis dan Ekaristi/Perjamuan Tuhan.
8
Ada devosi kepada para kudus
Tidak menerima devosi kepada para kudus.





III. AGAMA HINDU

        Agama Hindu tiba di Indonesia pada abad pertama Masehi, bersamaan waktunya dengan kedatangan agama Budha, yang kemudian menghasilkan sejumlah kerajaanHindu-Budha, seperti Kutai, Mataram, dan Majapahit.

1. Aliran dalam agama Hindu

    Dalam agama Hindu terdapat banyak aliran dan kelompok.Salah satunya yang ada di Indonesia, yang sejak Mahasabda Parishada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) tahun 1993, disebut agama Hindu Dharma.

2. Ibadat

    Unsur pokok penghayatan agama Hindu Dharma muncul dalam bentuk ibadat, khususnya berupa upacara - upacara harian yang dilaksanakan di tempat - tempat dan pada saat - saat yang berkaitan dengan erat dengan irama hidup manusia setiap hari, seperti di sekitar rumah tinggal, sumber - sumber air, serta waktu - waktu penting lainnya.
    Hal yang langsung berhubungan dengan ibadat adalah bangunan - bangunan pura yang tidak hanya merupakan tempat upacara ibadah dilaksanakan, tetapi juga menjadi pusat kebudayaan dan hidup sosial.

3. Kitab Suci agama Hindu

    Dalam Hindu Dharma terkenal kitab - kitab Weda, Usana Bali, dan juga Upanisad. Isi tulisan suci ini beraneka ragam, tetapi bagian yang terbesar berupa doa dan himne,juga ajaran mengenai Allah (Brahman), dewa - dewa, alam, dan manusia. Ajaran - ajaran tersebut tidak mengikat secara ketat dogmatis, sehingga ada beraneka ragam aliran dan pandangan dalam ajaran Hindu.

4. Ajaran yang pokok

    Yang menjadi tujuan pokok hidup manusia menurut Hindu Dharma adalah moksa, yaitu pemebebasan dari lingkaran reinkarnasi yang tak habis- habisnya (samsara). Pemebebasan ataupun moksa ini dapat dicapai melalui tiga jalan (tirmarga), yaitu karma-marga, jnana-marga, dan bhakti-marga.

l      Melalui karma-marga orang ingin mencapai moksa dengan melakukan karya, askese badani, yoga, tapa, ketaatan pada aturan - aturan kasta. Karya - karya yang paling berharga dalam karma-marga adalah samskara, yakni kedua belas upacara liturgis yang berkaitan dengan tahap-tahap kehidupan seseorang.

l     Melalui jnana-marga, penyucian diri guna mencapai moksa dilakukan dengan jalan askese budi, yaitu mengheningkan cipta dalam meditasi, dengan tujuan semakin menyadari kesatuan dirinya dengan Sang Brahma.

l       Melalui bhakti-marga orang menyucikan diri dengan penyerahan diri seutuhnya menuju pertemuan dalam cinta kasih dengan Tuhan.

5. Kata -kasta

     Agama Hindu (di India) memang mengenal pembagian masyarakat menjadi empat kasta (caturwarana), yaitu brahmana, ksatria (keduanya adalah kasta bangsawan, rajawi), waiseya (petani, prajurit, dan pedagang) dan sudra/jaba (rakyat jelata). Sebenarnya di luar keempat kasta ini masih ada kelompok kelima yang disebut paria, yakni mereka yang tersisih, tak mempunyai tempat sosial, marginal dan terbuang. Namun demikian, dalam agama Hindu Dharma saat ini pembagian tersebut hanya tinggal sisa -sisa yang tak begitu berarti.

6. Hari raya agama Hindu

    Hari raya Nyepi merupakan hari besar agama Hindu. Kendati hari Nyepi ini jatuh pada pergantian tahun baru Saka, hari tersebut bukanlah hari mengadakan perayaan pesta, melainkan hari untuk menyucikan dan memperkuat diri terhadap pengaruh roh-roh jahat.
    Pada hari raya Nyepi umat Hindu dilarang menyalakan api, melakukan pekerjaan, bepergian dan melangsungkan hubungan seks. Selain hari raya Nyepi, juga ada hari raya lain, yaitu Galungan (yang jatuh pada hari Rabu Kliwon) dan wuku dungulan (setiap 210 hari sekali, yang bertujuan untuk memohon ke hadapan Ida Sanghyang Widhi, Batara-Batari, dan para leluhur agar pemujaannya dianugerahi keselamatan dan kesejahteraan.

IV. AGAMA BUDDHA

        Budha merupakan agama tertua kedua di Indonesia, yang datang pada sekitar abad keenam masehi. Sejarah Budha di Indonesia berhubungan erat dengan sejarah Hindu, sejumlah Kerajaan Budha telah dibangun sekitar periode yang sama, seperti Kerajaan Sailendra, Sriwijaya, dan Mataram. Kedatangan agama Budha telah dimulai dengan aktivitas perdagangan yang dimulai pada awal abad pertama melalui Jalur Sutra antara India dan Indonesia. Sejumlah warisan dapat ditemukan di Indonesia mencakup Candi Borobudur di Magelang dan patung atau prasasti dari sejarah Kerajaan Budha yang lebih awal.

1. Sidharta Gautama

   Agama Budha adalah sebuah agama dan filsafat yang berasal dari anak benua India dan meliputi beragam tradisi kepercayaan, dan praktik yang sebagian besar berdasarkan pada ajaran yang dikaitkan  dengan Sidharta Gautama, yang secara umum dikenal sebagai Sang Budha (berarti “yang telah sadar” dalam bahasan Sansekereta dan Pali).
        Sang Budha hidup dan mengajar di bagian timur anak benua India dalam beberapa waktu antara abad ke - 6 sampai ke-4 SM. Beliau dikenal oleh para umat Budha sebagai seorang guru yang telah sadar atau tercerahkan, yang membagikan wawasan-Nya untuk membantu makhluk hidup mengakhiri ketidaktahuan/kebodohan (avidya`), kehausan/nafsu rendah (tanha`), dan penderitaan (dukkha), dengan menyadari sebab musabab saling bergantungan dan sunyatam dan mencapai nirwana (pali: Nibbana).

2. Kitab Suci Agama Buddha

     Setiap aliran Budha berpegang kepada Tripitaka sebagai rujukan utama karena di dalamnya tercatat sabda dan ajaran Sang Hyang Buddha Gautama. Pengikut - pengikutnya kemudian mencatat dan mengklasifikan ajarannya dalam 3 buku, yaitu Sutta Pitaka (kotbah - kotbah Sang Buddha, Vinaya Pitaka (peraturan/tata tertib para biksu (bhikku), dan Abhidhamma Pitaka (ajaran hukum metafisika dan pdikologi).

3. Inti Ajaran agama Buddha

    Inti ajaran Buddha mengenai hidup manusia tercantum dalam catur Arya Satya, yang berarti Empat Kasunyatan atau kebenaran Mulia.

1) Dukha-Satya, yaitu hidup dalam segala bentuk adalah penderitaan.

2) Samudaya-Satya, yaitu penderitaan disebabkan karena manusia memiliki           keinginan dan nafsu.

3) Nirodha-Satya, yaitu penderitaan itu dapat dilenyapkan (moksa) dan orang mencapai nirwana (kebahagiaan) dengan membuang segala keinginan dan nafsu.

4) Marga - Satya, yaitu jalan untuk mencapai pelenyapan penderitaan 
 sehingga dapat masuk ke dalam nirwana adalah Delapan Jalan Utama (asta-        arya-marga), yaitu keyakinan yang benar, pikiran yang benar, perkataan yang benar, perbuatan yang benar, perhatian yang benar, dan semedi yang benar.
Dalam hukum karmasamsara, menusia terikat oleh perbuatannya (karma) pada roda kehidupannya (cakra). Dari lahir hingga kematiannya, manusia berpindah-pindah tempat pada berbagai alam dan ruang, yakni kamaloka (alam indra dan nafsu), rupaloka ( alam tanggapan), dan arupaloka (alam bebas dari keinginan, nafsu, dan pikiran).

    Dengan menjalani Marga - Satya, orang dapat mencapai penerangan tertinggi (bodhi), yakni bila jiwa, batin, atau diri manusia secara sempurna dibebaskan dari segala ikatan ketiga ilusi besar tentang adanya roh, diri dan dunia, karena ketiga-tiganya sebenarnya adalah maya atau ilusi belaka. Dengan demikian, orang mencapai kebahagiaan (suka), keamanan (bahaya), dan kedamaian (shanty) yang olehnya ketiga ilusi besar tadi diganti dengan tiga kebenaran, yakni tanpa diri (anatman), tiada apa-apa (anitya), dan kekosongan sempurna (sunya). Inilah yang dinamakan nirvana; kelenyapan diri yang total. Inilah jati segala-galanya dan merupakan kebahagiaan sempurna.
   
    Terdapat tiga aliran pokok dalam Budhisme yang disebut Tryana, yaitu: Theravada (yang disebut juga sebagai Hinayana),Mahayana, dan Wajrayan ( yag disebut juga sebagai Tantrayana).

1) Dalam Theravada (Hinayana), penganut-penganutnya mencari   keselamatatan secara individual, sehingga hanya sedikit orang yang   dapat mencapainya.Oleh karena itu dinamakan Hinayana.

2) Dalam Mahayana orang yang sudah memperoleh penerangan tertinggi menunda saat mencapai nirwana untuk menolong orang lain, aliran ini disebut Mahayana. Dalam Mahayana. Diri Budha diberi kedudukan transenden ( di luar segala kemampuan manusia) dan disembah sebagai dewa yang dapat dimintai perantaraannya. Aliran inilah yang juga berkembang di Indonesia, sehingga tanpa   banyak kesulitan dapat memasukkan diri dalam agama-agama monotheis.
3) Dalam Wajrayana ( yang berarti kendaraan intan), Buddha dipandang sebagai dhat (pribadi yang gemilang bagaikan intan) yang menjadi asal dan tujuan hidup manusia.

4. Hari Raya Agama Budha

    Agama Buddha memiliki beberapa hari raya penting yaitu : Waisak, Kathina, Asadha. dan Magha Puja. Di Indonesia hari raya Waisak dijadikan sebagai hari libur nasional.
    Penganut Budha merayakan Waisak sebagai peringatan tiga peristiwa penting dalam agama Budha, yaitu hari kelahiran Pangeran Siddharta (nama sebelum menjadi Budha), hari pencapaian Penerangan Sempurna Pertapa Gautama, dan hari Sang Budha wafat atau mencapai nirwana/nibbana. Hari Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Budha Purnima di India, Vesak di Malaysia dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak di Sri Lanka. Nama ini diambli dari bahasa Pali “Wesakha”, yang pada gilirannya juga terkait dengan “Waishaka” dari bahasa Sanskerta.


V. AGAMA KONGHUCU

     Agama Konghucu berasal dari Cina daratan dan yang dibawa oleh para padagang Tionghoa dan imigran. Diperkirakan orang Tionghoa tiba di kepulauan nusantara pada abad ketiga Masehi.

1) Pendiri Agama Konghucu

Konghucu adalah nabi dan pendiri agama Konghucu.
Ia lahir di Kota Tsow di Ngeri Lu, di dataran Cina. Ia ditinggalkan oleh bapaknya ketika masih berusia 3 tahun dan pada usia 26 tahun ibunya juga meninggal dunia. Sejak kecil ia suka berdoa. Dalam permainan dengan teman sebayanya, ia suka memerankan diri sebagai seorang yang memimpin doa. Pada masa mudanya ia sangat berhasil dalam tugasnya di dinas pertanian dan peternakan. Ia berhasil menciptakan kehidupan masyarakat yang adil dan makmur.Konghucu tumbuh menjadi seorang yang jujur,hidup sederhana, dan suka memberi nasihat kepada orang lain. Ia dikenal sebagai guru dan pemimpin yang bijaksana. Ajaran -ajaran Konghucu terus    dipelihara oleh pengikutnya dan dihayati secara pribadi sebagai jalan hidup.

2) Inti Ajaran Konghucu

Konghucu sangat mementingkan ajaran moral.Jika setiap orang dapat mengusahakan keharmonisan dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan maka akan tercipta perdamaian Allah. Tujuan hidup yang dicita-citakan dalam Konghucu adalah menjadi seorang   Kuncu (manusia budiman).
Seorang Kuncu adalah seorang yang memiliki moralitas tinggi yang mendekati moralitas Sang Nabi (Konghucu). Agama Konghucu sangat menghormati arwah leluhur. Tuhan Yang Maha Esa disebut Tuhan.

3) Hari Raya Agama Konghucu

Imlek adalah hari raya umat Konghucu. Imlek merupakan hari pergantian tahun baru Cina atau Tiongkok. Di Indonesia hari raya ini ditetapkan sebagai hari libur nasional sejak masa pemerintahan Presiden Abdulrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarno Putri.

4) Agama Konghucu di Indonesia

 Agama Konghucu pada zaman Pemerintahan Presiden Soekarno diakui sebagai agama resmi di Indonesia. Karena politik pemerintahan Orde Baru, agama Konghucu tidak diakui sebagai agama yang resmi oleh pemerintah Indonesia. Baru pada pemerintahan Presiden Abdulrahman Wahid , agama Konghucu  mendapat angin segar kembali. Kebijaksanaan  Presidean  Abdulrahman Wahid itu juga diteguhkan oleh Presiden berikutnya, Megawati Soekarno Putri.

VI. AGAMA ASLI DAN ALIRAN KEPERACAYAAN

1) Agama Asli

 Agama asli masih tetap berpengaruh secara mendalam pada hidup keagamaan banyak orang, yang telah menganut salah satu agama yang ada di dunia, khususnya agama Kristen-Katolik. Unsur ajaran kosmis dari agama-agama aslilah yang masih cukup banyak terdapat  dalam hidup keagmaan orang-orang Indonesia di berbagai         daerah.Ajaran kosmis yang dimaksud adalah ajaran tentang jagad raya, yaitu bagaimana itu dijadikan, bagaimana perkembangannya, dan bagaimana cara menggunakannya.

a) Dasar dan ajaran

    Dasar yang mendalam dari agama-agama suku adalah                                       dongeng-dongeng mengenai ciptaan yang di dalamnya terdapat hubungan
  ke-Allah-  an dengan ciptaan. Ada dua tema pokok dari cerita-cerita penciptaan yaitu:
(1) Perang suci antara dunia atas dan dunia bawa atau perkawinan suci antara surga dan dunia. Keduanya disusul dengan perceraian.
(2) Keterangan tentang terjadinya bermacam-macam tumbuh-tumbuhan yang diperlukan oleh manusia untuk dapat hidup, dan tentang kenyataan bahwa manusia akan mati sutau saat.

 Cerita-cerita penciptaan tersebut dimaksudkan untuk menerangkan terciptanya alam semesta, dunia, musim, pergantian terang dan gelap dan sebagainya, dan menunjukkan fungsi segala sesuatu. Pengaturan Allah atau Dewa mereka atas alam semesta setiap manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan dan setiap kejadian mempunyai tempat yang penuh arti. Masing-masing harus berbuat sesuai dengan hal itu dan wajib menaati peraturan-peraturan dan larangan-larangan tertentu.

Dalam agama asli atau suku inilah pada umumnya timbul kepercayaan bahwa tidak hanya manusia saja berjiwa, tetapi juga tumbuh-tumbuhan dan hewan. Oleh karena itu, mereka sangat menghormati alam. Sebagian besar agama-agama asli juga percaya bahwa seorang yang telah meninggal tetap berhubungan denganpara anggota suku yang masih hidup.Orang-orang yang sudah meninggal tersebut mempunyai pengaruh langsung dan kuat atas orang-orang yang masih hidup. Kebanyakan dari mereka juga mengenal imam-imam yang bertugas mempertahankan hubungan orang-orang yang masih hidup dengan nenek moyang, dewa-dewa, jin-jin, dan setan-setan.

b) Agama-agama asli di Indonesia

Berikut beberapa agama asli yang ada di Indonesia:
-     Lera Wulan Tana Ekan di Flores Timur dan Lembata,
-     Wiwitan di Sunda,
-     Aluk To Dollo di Sulawesi,
-     Sabulungan di Mentawai,
-     Merapu di Sumba,
-     Kaharaingan di Kalimantan, dan lain.

Ada juga yang disebut agama-agama suku, seperti yang dianut penduduk-penduduk di beberapa pulau di sebelah barat Sumatra, beberapa suku kecil dan bagian suku-suku yang besar di Sumatra, kelompok-kelompok besar dari suku Dayak di Kalimantan, Toraja di Sulawesi, dan penduduk Pulau Sumba dan penduduk Irian Jaya.
Selai itu, masih terdapat apa yang kini dinamakan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang menurut negara sama kedudukannya dengan agama dalam hal pengalaman Ketuhanan Yang Maha Esa.

2) Aliran Kepercayaan

a)     Dasar dan ajaran

Aliran kepercayaan dalam dokumen Nostra Aetate disebut juga kepercayaan terhadap Yang Mahatinggi. Aliran ini mementingkan sikap batin dan berkisar pada ilham diri sendiri, yakni:
- peningkatan integritas diri manusia,
- pengalaman batin bahwa diri pribadi beralih ke kesatuan dan persatuan yang lebih       tinggi, dan
- partisipasi dalam tata tertib sempurna yang mengatasi daya kemampuan manusia biasa.
          Aliran kepercayaan berusaha untuk meraih kesempurnaan hidup dengan jalan mencapai budi yang luhur. Hal tersebut dilakukan secara perseorangan atau dalam kelompok-kelompok. Organisasi atau persekutuan tidak dipentingkan. Aliran Kepercayaan bersumber pada tradisi agama asli. Aliran kepercayaan juga menanamkan  perasaan keagamaan yang mendalam di dalam hidup para penganutnya.
Aliran kepercayaan mengajarkan tentang sikap batin dan berkisar pada ilham dari diri sendiri,yakni:
-     Peningkatan integritas diri manusia (melawan pengasingan),
-     Pengalaman batin bahwa diri pribadi beralih ke kesatuan dan persatuan yang lebih tinggi, dan
-     Partisipasi dalam tata tertib sempurna yang mengatasi daya kemampuan manusia biasa.
Aliran-aliran kepercayaan ingin mencapai budi luhur untuk meraih kesempurnaan hidup. Hal itu dilakukan secara perseorangan atau dalam kelompok-kelompok perguruan. “Umat” dalam aliran kepercayaan sulit dibatasi.Organisasi tidak dipentingkan karena sumber utamanya adlah tradisi agama-agama asli.

b) Hubungan antara aliran kepercayaan dan agama asli

        Aliran kepercayaan tidak langsung berkembang dari agama asli, tetapi dari unsur-unsur kebatinan, kerohanian, atau mistisisme dan kejiwaan yang mengembangkan budi pekerti serta adat etis, sudah ada dalam agama-agama asli di seluruh nusantara. Agama-agama asli di Indonesia dalam peredaran zaman mengalami banyak tantangan, tidak hanya dari yang disebut “agama internsional”, tetapi juga dari perkembangan kebudayaan dan modernisasi.
Menurut kepercayaan asli, seluruh alam merupakan satu kesatuan sakral yang didekati menusia melalui sistem penggolongan dan pembagian. Pandangan hidup ini tidak cocok dengan alam pikiran modern, dan memaksa para penganut agama asli mengubah cara berpikir dan mereka menemukannya pada aliran kepercayaan itu. Orang mulai menggali harta terpendam dari pusaka kebudayaan asli. Dengan demikian tradisi nenek moyang berkembang menjadi suatu kebudayaan rohani, yang unsur-unsurnya menyangkut perilaku, hukum, dan ilmu suci.

c) Ibadat dan pembinaan

    Unsur Ibadat menjadi amat sederhana, sebab yang pokok adalah kesadaran dan keyakinan, serta hati nurani. Pertemuan-pertemuan diarahkan pertama-tama kepada pembinaan hati; meneguhkan tekad dan kewaspadaan batin, serta menghaluskan budi pekerti dalam tata peragaulan. Tujuannya adalah pendidikan, bukan kebaktian, sebab setiap orang menemukan Tuhan dalam hatinya sendiri.

Dengan membersihkan hati serta mengembangkan kedewasaan rohani, maka dengan sendirinya ia berbakti kepada Allah. Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dimaksudkan sebagai pernyataan dan pelaksanaan hubungan pribadi dengan Allah yang diwujudkan dalam perilaku ketakwaan terhadap Tuhan. Peribadatan merupakan merupakan pengalaman budi luhur, bukan suatu kebaktian lahiriah, sehingga tidak ada tempat atau petugas ibadat. Semua bersifat batiniah.

d) Sikap Gereja Katolik terhadap aliran kepercayaan dan agama asli.

Sejak Konsili Vatikan II Gereja dengan penuh keyakinan menegaskan bahwa iman dan wahyu orang bukan Kisten dapat bersifat menyelamatkan dan bahwa Gereja harus menolak ‘semua sarana yang memaksa’ dalam pewartaan imannya. Sarana-sarana yang dimaksud tersebut adalah semacam sifat fanatisme berlebihan dan sifat menakut-nakuti kebudayaan lain. “Gereja Katolik tidak menolak apa pun, yang dalam agama-agama itu dianggap benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus, Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah, serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyaj hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang” (NA art. 2).
Dalam pernyataan ini dapat dilihat bahwa di dalam lembaga Gereja dan institusi serta tradisinya, dalam orang-orang kudus dan kitab-kitab sucinya, ‘pesan Kristiani’ secara aktif disingkapkan oleh Roh Kudus di tengah-tengah kita dan melampaui rintangan-rintang budaya, seturut janji yang Yesus berika kepada para RAsul-Nya.

        Demikian gamabran agama-agama yang ada di Indonesia dan dunia pada umumnya. Pengenlan akan agama-agama itu, dapat membantu kita untuk saling menghargai dan membangun sikap toleransi dan menjauhi sikap fanatisme agama yang berdampak pada penolakan terhadap penganut agama lain.


Tangerang, 04 Desember 2019


****Sumber:

1) Hardawirjan, R. (penterj).1993. Dokuman Konsili Vatikan II. Jakarta: Obor.
2) Jehandut, Bonefasius. Uskup Wilhelmus van Bekkum & Dere Serani. Jakarta: Nera Pustaka,2012
3) Komisi Teologi KWI.2011. Semakin Mengindonesia, 50  Tahun Hierarki. Yogyakarta: kanisius.
4) Lalu ,Yosef, Pr. Agama Membantu Manusia Menggumuli Makna Hidupnya (seri 2), Kanisius, 2010
5) Samartana.Th, dkk.2001 .Pluralisme, Konflik dan Pendidikan Agama di Indonesia. Yogyakarta: Interfidei.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATERI UJIAN PRAKTEK KLS VI

RANGKUMAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SD, UNTUK BLOK TEST PERTAMA '20/'21

RANGKUMAN AGAMA KATOLIK SD, PERSIAPAN BLOK TEST KEDUA SMSTR 2 2019