PENGAMPUNAN ITU MENYEMBUHKAN

PENGAMPUNAN ITU MENYEMBUHKAN



Dalam doa yang diajarkan Yesus kepada kita dikatakan : “ …. ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni orang yang bersalah kepada kami” ( Mat 6 : 12. 14-15). Ini berarti kita akan diampuni seperti kita mengampuni orang lain. Kalau kita tidak mengampuni orang lain, kita pun tidak akan diampuni. Ukuran besarnya pengampunan yang pantas kita terima adalah besarnya pengampunan yang juga kita berikan. Doa ini memang didasari oleh semangat keadilan.Yesus sendiri menunjukkan teladan kepada kita untuk menerima dan mencintai orang berdosa tanpa menghakimi mereka.Yesus datang mencari domba yang hilang dan anak yang hilang. Dia datang bagi orang-orang berdosa, bukan bagi orang-orang yang sudah menganggap dirinya saleh.



Bacaan Injil Yohanes 8 : 2 - 11 mengisahkan orang-orang Farisi yang menganggap dirinya saleh membawa seorang wanita yang kedapatan berbuat zinah ke hadapan Yesus. Mereka meminta pendapat Yesus dengan tujuan untuk  menjebak Yesus.  Yesus diam saja. Yesus menulis di tanah dan kemudian berkata: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”  Ketika mendengar apa yang dikatakan Yesus ini, orang-orang Farisi dan ahli taurat mengundurkan diri, dari yang paling tua sampai yang paling kecil. Mereka merasa bahwa dirinya tidak lebih baik dari pada wanita berdosa itu.
Yesus memberikan teladan, bagaimana kita seharusnya melihat diri kita sendiri. Mungkin kita tidak lebih baik daripada orang yang kita musuhi,walaupun ia bersalah kepada kita.Oleh sebab itu, saling mengampuni adalah sikap yang baik dan terpuji dan bahkan menyembuhkan.Ada banyak kisah kesaksin orang yang mengalami kesembuhan dari penyakit yang dideritanya karena mengampuni orang yang bersalah kepadanya. Berikut salah satu kisahnya:Adalah seorang suster yang divonis oleh dokter bahwa ia menderita kanker payudara stadium 1B. Selama satu tahun lebih ia meminum obat-obatan tradisional dan teh hijau. Kemudian ia periksa lagi kesehatannya di Rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta.Tetapi kankernya bertambah menjadi stadium 2B.Ada seorang ibu menyarankan suster itu untuk menemui Rm.Yohanes Indrakusuma di Cikanyere-Puncak Jawa Barat. Suster luangkan waktu bertemu Romo Yohanes. Ia meminta Rm.Yohanes menumpangkan tangan dan mendoakannya. Ketika menumpangkan tangan, Rm.Yohanes berkata: “Suster pasti menyimpan dendam yang sudah lama kepada seseorang di hati suster.”Suster membenarkan apa yang dikatakan Rm.Yohanes. Ia ternyata membenci ayahnya sejak ia SMP, karena sang ayah menelantarkan dia, dua kakak serta ibunya. Mereka diusir dari rumah dan hidup terpisah dengan sang ayah dan kemudian sang ibu sakit-sakitan dan meninggal dunia.Ternyata biang penyakit suster tadi adalah rasa benci dan dendam kepada sang ayah. Obatnya adalah harus mengampuni dengan kata-kata dan tindakan. Ia meminta cuti selama enam bulan, pulang kampung dan  merawat sang ayah yang sedang sakit kena stroke. Ia mengampuni sang ayah dengan tulus hati. Dan selama cuti itu ia tidak minum obat apa pun. Ia hanya mengampuni dengan tulus sang ayah dan merawat dengan cinta yang tulus.Selesai masa cuti itu, sebelum kembali ke tempat tugasnya, ia sempatkan diri untuk periksa lagi kondisi kesehatannya di Panti Rapih Yogya. Hasil sungguh luar biasa. Dari hasil pemeriksaan semuanya negatif. Ketika dokter menanyakan obat apa yang diminumnya, suster dengan tulus menjawab : “obatnya adalah PENGAMPUNAN”.Siapapun di dunia ini hampir pasti mengalami bahwa tindakan mengampuni adalah satu tindakan yang sangat sulit dilakukan. Pengampunan yang dimaksudkan di sini tidak sama dengan sekedar memberi maaf di bibir saja. Itu merupakan tindakan yang melibatkan seluruh diri dan kepribadian seseorang untuk berani keluar dari diri sendiri;  kemapanan, gengsi, kesombongan, kepentingan dan keegoisan untuk menerima apapun dan siapapun yang telah melukai dan menyakiti hati kita. Ini memang berat, karena ketika kita mau mengampuni, kita seolah-olah kehilangan segala-galanya: muka, harga diri,  gengsi dan martabat.Sama dengan orang-orang yang memergoki Maria Magdalena yang jatuh ke dalam dosa dan berikhtiar merajamnya dengan batu, sementara dosa-dosa para penuduh itu barangkali jauh lebih besar dari dosa MariaMagdalena?!



Ya, mengampuni itu memang berat dan malah menyakitkan. Dalam Mateus 18: 21-22,  dibicarakan tentang pengampunan. Kepada petrus Yesus menyampaikan bahwa mengampuni itu tanpa batas, “ …..Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Mengampuni berarti menerima bahwa orang lain mempunyai kekurangan, dan bahwa kita pun mempunyai kekurangan. Jika kita tidak mengampuni, bukankah itu berarti kita seolah-olah memandang bahwa  kita tidak pernah berbuat dosa atau kesalahan, atau memandang bahwa diri kita tidak mempunyai kekurangan. Bukankah itu Tetapi justru ketika kita berhasil melampaui saat-saat seperti itu, kita akan mengalami ketentraman hati, kedamaian dan kebahagiaan yang tak terkatakan serta lebih dari itu kita mengalami kesembuhan jasmani dan rohani, sebagaimana suster Marietha dalam kisah di atas.Ya, pengampunan adalah obat yang ampuh untuk menyembuhkan. Maka kita seharusnya setiap saat mengampuni. Apa lagi dalam doa Bapa kami,sering kita ucapkan : “ampunilah kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”. Marilah kita pakai obat mujarab ini : MENGAMPUNI.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATERI UJIAN PRAKTEK KLS VI

RANGKUMAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SD, UNTUK BLOK TEST PERTAMA '20/'21

RANGKUMAN AGAMA KATOLIK SD, PERSIAPAN BLOK TEST KEDUA SMSTR 2 2019